Panduan Lengkap Demensia: Pengertian, Gejala, dan Jenisnya

Demensia

Meski seringkali dianggap sebagai penyakit tertentu, sebenarnya demensia bukan merupakan sebuah kondisi medis yang spesifik. Demensia tepatnya merupakan sebuah kelompok kondisi yang memiliki gejala gangguan pada sekurang-kurangnya dua fungsi otak.

Penyakit yang berada di dalam kelompok ini membuat penderitanya mengalami gangguan fungsi sosial sehari-hari. Salah satu indikator sebuah penyakit masuk ke kelompok demensia adalah dengan kehilangan memori dan pengambilan keputusan secara bersamaan.

Dari sisi pengamat, penderitanya akan tampak mudah lupa, memiliki keterbatasan aktivitas sosial, dan kemampuan berpikir yang terganggu. Dengan begitu, beberapa aktivitas dasar sehari-hari mulai sulit terlaksana secara mandiri, bahkan kebutuhan fisik pribadi. Beberapa kondisinya seringkali bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki secara medis.

Berbagai Jenis Gejala Demensia

Diagnosa pada dasarnya harus berasal dari tenaga medis profesional. Deteksi mandiri sangat tidak menjadi rekomendasi dalam menghadapi penyakit yang melibatkan kesehatan mental. Namun, terdapat beberapa kondisi umum yang biasanya penderita sadari dan orang sekitarnya.

  • Sering melupakan sesuatu;
  • Kemampuan sosial menurun, seperti berbicara atau komunikasi dasar;
  • Kemampuan logika mengalami penurunan;
  • Kesulitan menjalankan aktivitas dasar harian;

Gajala Demensia Kognitif

Gejala ini melibatkan kemampuan berpikir dan mengolah logika, termasuk pada tingkatan sederhana. Adapun beberapa kondisi yang umum terjadi dan dapat keluarga amati antara lain sebagai berikut.

  • Penurunan kemampuan berpikir;
  • Merasa bingung (utamanya di sore hari);
  • Penyimpangan kebiasaan atau cara komunikasi;
  • Kesulitan berbicara;
  • Sulit memahami perkataan orang lain;
  • Mendramatisasi situasi;
  • Sulit mengenali hal-hal sederhana.

Gejala tersebut umumnya lebih banyak orang lain sadari dari pada penderitanya sendiri. Apabila menemukan anggota keluarga atau orang terdekat yang mengalami masalah tersebut, segera bantu untuk menghubungi layanan kesehatan terdekat.

Gejala Demensia dari Faktor Kebiasaan

Pada kelompok gejala ini, penderita akan menunjukkan perubahan yang melibatkan karakter dan kebiasaan umum. Termasuk dalam cara komunikasi dan merespon sesuatu. Adapun beberapa situasi yang umum antara lain sebagai berikut.

  • Mudah tersinggung;
  • Perubahan kepribadian;
  • Sering merasa gelisah pada hal sederhana;
  • Kurang bisa mengendalikan diri;
  • Sering merasa tersesat secara fisik atau mental.

Pada beberapa kasus, gejala di kelompok ini cukup mudah terdeteksi oleh diri sendiri. Namun tentunya pengamatan dari orang sekitar akan lebih mudah untuk menemukan perubahan-perubahan tersebut.

Baca Juga:  Kenapa Renang Dapat Menyehatkan Tubuh? Simak Alasannya

Gejala Demensia dari Faktor Perasaan

Penderita penyakit pada kelompok ini juga cukup sering mengalami lonjakan emosi yang terlalu fluktuatif. Hal tersebut muncul dengan perubahan rasa cemas, kesendirian, dan peralihan di antaranya secara tidak wajar.

Beberapa penderitanya mengalami rasa cemas dan tegang yang berlebihan pada hal-hal dasar. Misal saja rasa grogi secara tidak wajar saat akan kedatangan tamu atau kunjungan dari kerabat yang lazim bertemu. Beberapa penderitanya juga dapat mendramatisasi keadaan secara tidak wajar.

Gejala Demensia Secara Psikologis

Pada tingkatan yang semakin berat, beberapa penderita akan mengalami tekanan berlebih. Penyebab tekanan tersebut dapat berasal dari kegagalan fungsi psikologis, rasa lelah mengalami penyakit, atau bahkan respon orang-orang di sekitar yang tidak memahami kondisinya.

Tidak jarang juga penderita mengalami halusinasi berat atau paranoia yang menyebabkannya tampak seperti orang kebingungan. Beberapa kasus halusinasi bahkan dapat membahayakan penderita dengan pergi ke tempat asing atau berbahaya secara fisik.

Gejala Demensia Lain

Terdapat juga gejala lain yang melibatkan kemampuan otot dasar, seperti penurunan kemampuan menggerakan anggota tubuh atau membuat gerakan sederhana. Beberapa penderita juga mungkin mengalami kesulitan untuk berjalan.

Dalam hal psikologis lain, penderita bisa mengalami penumpukan memori. Pada kondisi tersebut, relasi dan konsep waktu bagi penderita menjadi cukup kabur. Beberapa memori yang terjadi di waktu lampau bisa terasa sangat dekat atau sebaliknya.

Di tingkat yang lebih sulit, beberapa penderita kesulitan untuk menyusun kata atau kalimat. Sehingga komunikasi dengan pihak luar bisa sangat menjadi kendala. Sebagian besar pasien juga mengalami gangguan tidur atau gejala sleep-walking.

Penyakit Dalam Kategori Demensia

Terdapat setidaknya empat penyakit umum yang masuk ke dalam kategori demensia. Beberapa penyakit berikut dapat terjadi secara bersamaan pada satu pasien. Hal tersebut membuat indikasi penyakit akan saling menguat satu dengan lainnya.

Alzheimer: Demensia Paling Umum

Penyakit alzheimer merupakan kasus demensia yang paling umum terjadi di masyarakat. Sekitar dua per tiga kasus gejala demensia merupakan penyakit alzheimer. Hal ini juga yang sering membuat kalangan awam memandang kedua istilah tersebut sebagai hal yang sama.

Penyakit alzheimer menyebabkan penurunan kemampuan kognitif secara perlahan. Beberapa kasus berawal dari kehilangan daya ingat. Penyakit alzheimer bermula dengan adanya dua perkembangan tidak wajar di otak, yakni adanya plak amyloid dan belitan neurofibriler.

Plak dan belitan tersebut membuat komunikasi antara sel syaraf terhambat. Pada kondisi lanjut, sel syaraf yang terisolasi tersebut akan mati dan menurunkan fungsi otak secara perlahan. Secara tampak luar, penderitanya akan lebih mudah lupa dan kehilangan fungsi kognitif secara bertahap.

Baca Juga:  6 Penyebab Benjolan di Dubur, Penting Diketahui!

Demensia Vaskular

Demensia vaskular adalah gejala kerusakan fungsi kognitif karena adanya gangguan pembuluh darah di otak. Beberapa kondisi berkembang akibat stroke atau kendala lain yang terjadi secara bertahap. Penyakit pembuluh darah di otak secara perlahan akan mengganggu kehidupan penderitanya.

Berbeda dengan penyakit lain yang cenderung memiliki dampak bertahap, demensia vaskular dapat berdampak secara instan. Setelah serangan pembuluh darah, gejala lain akan timbul secara perlahan dengan semakin parahnya kondisi pembuluh darah otak.

Dari tampak luar, kondisi cenderung mirip dengan alzheimer. Dalam beberapa kasus, penderita alzheimer juga dapat mengalami demensia vaskular secara bersamaan. Pada kondisi tersebut, gejala yang terjadi secara fisik dan psikologis akan berlipat ganda.

Lewy Body

Lewy body merupakan istilah yang merujuk pada gumpalan protein abnormal pada sel syaraf. Gumpalan tersebut berkembang secara tidak wajar di beberapa tempat pada otak. Keberadaannya yang tidak seharusnya membuat fungsi otak terganggung.

Gejala demensia pada penderita penyakit lewy body berupa perubahan cara gerak, berpikir, dan berperilaku. Sebagian besar pasien mengalami naik-turun fungsi berpikir, mencerna informasi, dan berperilaku. Dalam satu waktu, pasien bisa bersikap wajar dan seketika merasa bingung tanpa sebab.

Penderita penyakit ini cukup sering mengalami halusinasi visual yang membingungkan. Kondisi penyakit lewy body juga dapat terjadi bersamaan dengan dua jenis demensia lain pada ulasan sebelumnya. Situasinya akan semakin sulit bagi penderita dan pihak yang terlibat dalam penanganannya.

Demensia Frontotemporal

Penyakit demensia frontotemporal memiliki gejala yang sesuai dengan sebutannya. Terjadi kerusakan perlahan pada bagian depan (frontal) dari cuping otak. Situasi seperti demikian umumnya terjadi pada usia 50-60 tahunan.

Bagian lobus frontal mengelola kemampuan menilai dan bertingah laku. Seseorang dengan demensia frontotemporal akan sulit menata perilaku sesuai dengan pola umum. Beberapa pasien bersikap kurang sopan, abai dengan tanggung jawab, tidak dapat mengendalikan diri, agresif, dan bertindak ceroboh.

Secara perlahan, penderita demensia frontotemporal kehilangan kemampuan untuk memahami komunikasi. Di sisi lain, kemampuannya untuk berbicara dan merangkai kata juga akan menurun seiring tingkat kerusakan pada bagian otak yang semakin parah.

Diagnosis dan Faktor Risiko

Diagnosa gejala demensia tentu memerlukan pendampingan tenaga medis profesional. Seseorang tidak dapat menyimpulkan secara mandiri tanpa bekal pengetahuan dan pengalaman medis yang layak. Hal tersebut akan menjadi masalah lanjutan bagi banyak pihak.

Proses analisis dan komunikasi dengan semua pihak dapat berlangsung cukup lama untuk mencapai kesimpulan penyakit tertentu. Namun pelaporan dan deteksi dini dapat membantu penanganan proporsional untuk lebih mungkin terwujud pada pasien.

Baca Juga:  Penyakit Kulit Kering: Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya

Sementara faktor risiko yang telah diketahui sebagai pendorong beberapa penyakit demensia juga masih sangat minim. Beberapa faktor umum seperti pola hidup tidak sehat, rokok, dan risiko genetik menjadi hal-hal yang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan.

Dengan pengetahuan tersebut, khususnya seseorang dengan relasi keluarga yang pernah mengalami salah satu penyakit demensia tentu harus lebih waspada. Berperilaku hidup sehat dan menjauhi risiko-risiko tersebut tentu menjadi kewajiban utama.

Rajin berolahraga dapat menjaga kebugaran dan situasi mental tetap berada di kondisi yang baik. Selain itu, makan berbagai opsi sajian dengan nutrisi yang menjaga kesehatan otak juga sangat baik untuk seseorang dengan risiko.

Konsumsi susu, buah, dan sayur secara cukup menjadi salah satu rutinitas sederhana yang akan berdampak pada jangka panjang. Di sisi lain, selalu cukupkan asupan protein untuk bisa meregenerasi sel secara konsisten, termasuk pada jaringan otak.

Perawatan dan Manajemen Demensia

Terdapat dua jenis perawatan yang perlu berlangsung pada pasien dengan gejala salah satu penyakit demensia. Pasien perlu menerima perawatan farmakologi atau obat-obatan dan non-farmakologi seperti terapi fisik serta stimulasi kognitif.

Pada dasarnya, penyakit dalam kategori demensia lebih banyak bersifat irreversible atau permanen. Obat-obatan dan terapi fisik lebih bertujuan untuk mempertahankan kondisi agar gejala demensia tidak memburuk. Dengan begitu, relasi sosial dan kesadaran penderita tetap berada pada kondisi terkini.

Seseorang dengan kondisi demensia juga akan menyebabkan banyak gejolak bagi orang sekitar. Masalah komunikasi dan pemahaman akan menjadi isu utama dalam relasinya. Kesadaran dan pengetahuan tentang penyakit ini akan sedikit membantu orang di sekeliling bersikap lebih sabar dan pengertian.

Dengan kebutuhan tersebut, kerjasama dalam perawatan menjadi salah satu kunci untuk tetap berada di kondisi layak secara sosial. Anggota keluarga perlu secara bergantian bertanggung jawab pada pasien.

Selain itu, agenda rekreasi juga harus menjadi sesuatu yang terencana dengan baik untuk melepaskan tekanan dalam masa perawatan pasien. Dengan begitu, keluarga dapat tetap menjaga fokus dan kesehatan mentalnya sendiri selagi merawat pasien.

Demensia dan Pencegahan Dini yang Efektif

Dengan situasinya sebagai penyakit yang bersifat irreversible, penanganan lebih baik bisa hadir jika gejala demensia terdeteksi sejak dini. Hal tersebut akan membuat dampak perawatan lebih bermanfaat bagi pasien dan orang-orang sekitar.

Perawatan dini akan mempertahankan kondisi otak pada situasi yang lebih proporsional. Hal tersebut menghindarkan keluarga dan pasien dari periode-periode sulit yang tidak selalu harus terjadi. Maka dari itu, pemeriksaan kesehatan rutin adalah sesuatu yang mutlak, terlebih pada orang-orang dengan risiko.